adhi

Tentang Kebebasan

jencer13_tentang kebebasan

Betul, kebebasan memang mahal harganya. Beruntung sekali orang yang memilikinya dengan biaya yg sangat murah, bahkan gratis. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin belajar bagaimana ia meraih itu.

Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Ada beberapa nama yg memang pernah ku “stempel” sebagai preman (freeman).

Si Mbah, si pembuat topeng yang sangat-sangat rendah hati dan tersenyum dengan siapa saja. Ada juga Mas Uuk “meong”, seniman muda berbakat luar biasa yg memberiku wejangan tentang mimpi dan kepercayaan untuk meraihnya. Satu lagi, Aak Abdullah Al Kudus yg mengajariku kearifan yg harus terus dipertahankan dalam situasi apapun.

Tapi mereka sudah entah kemana sekarang. Si Mbah telah berpulang pada Sang Maha Pencipta. Mas Uuk, beberapa kali saya coba menyatroni di kampung seni yang ia dirikan, juga tak pernah berjumpa. Mas Aak, aku tak tau lagi di mana ia sekarang. Seandainya ia masih di tempat yg dulu, jarak kami pun terlalu jauh dari tempatku tinggal sekarang.

Mmmh…rindu juga dengan mereka. Rindu rona bebas wajah mereka. Semoga kebebasanmu terus menjalar  dan memberi benih pada siapapun yg  memetiknya. Terima kasih, karena kau membolehkanku memetik benih itu, benih kebebasan. Semoga saja aku bisa merawat hingga berbuah, dan siapa saja dapat memakannya.

Salam sahaja untukmu..

 

Betul, kebebasan memang mahal harganya. Beruntung sekali orang yang memilikinya dengan biaya yang sangat murah, bahkan gratis. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin belajar bagaimana ia meraih itu.

Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Ada beberapa nama yang memang pernah ku “stempel” sebagai seorang preman (freeman).

Si Mbah, si pembuat topeng yang sangat-sangat rendah hati dan selalu tersenyum dengan siapa saja. Ada juga Mas Uuk “meong”, seniman muda berbakat luar biasa yang memberiku wejangan tentang mimpi dan kepercayaan untuk meraihnya. Satu lagi, seorang Pria Madura bernama Aak Abdullah Al-Kudus yang mengajariku kearifan yang harus terus dipertahankan dalam situasi apapun.

Tapi, mereka sudah entah kemana sekarang. Si Mbah telah berpulang pada Sang Maha Pencipta. Mas Uuk, beberapa kali saya coba menyatroni-nya di Kampung Seni yang ia dirikan, juga tak pernah berjumpa. Cak Aak, aku tak tahu lagi dirinya sekarang. Seandainya ia di tempat yang dulu, jarak kami pun terlalu jauh dari tempat tinggalku saat ini.

Mmmmh..rindu juga dengan mereka. Rindu rona bebas wajah mereka. Semoga kebebasanmu terus menjalar dan memberi benih pada siapapun yang mau memetiknya.

Terima kasih, karena kau telah membolehkanku memetik dan mencicipi buah kebebasan itu. Semoga saja aku bisa merawatnya hingga berbuah kembali, dan siapapun dapat mencicipinya. Dan mudah-mudahan aku telah mempunyai ongkos yang cukup untuk membeli buah kebebasan itu.

 

Salam Sahaja Untukmu,